Thursday, 19 November 2015

Bagaimana hukum membaca manaqib?

Assalamualaikum..hai semua...apa khabar harini.?
jgn lupa jawab salam yatt yer... :)

today yatt rasa macam nak kongsikan something dengan korang semua..

HUKUM BAGAIMANA MEMBACA MANAQIB.?

Bagaimana hukumnya baca manaqib?

Mengertikah saudara arti kata-kata manaqib? Kata-kata manaqib itu adalah bentuk jamak dari mufrod manqobah, yang di antara artinya adalah cerita kebaikan amal dan akhlak perangai terpuji seseorang.
Jadi membaca manaqib, artinya membaca cerita kebaikan amal dan akhlak terpujinya seseorang. Oleh sebab itu kata-kata manaqib hanya khusus bagi orang-orang baik mulia: manaqib Umar bin Khottob, manaqib Ali bin Abi Tholib, manaqib Syeikh Abdul Qodir al-Jilani, manaqib Sunan Bonang dan lain sebagainya. Tidak boleh dan tidak benar kalau ada orang berkata manaqib Abu Jahal, manaqib DN. Aidit dan lain sebagainya. Kalau demikian artinya pada manaqib, apakah saudara masih tetap menanyakan hukumnya manaqib?

Betul tetapi cerita di dalam manaqib Syeikh Abdul Qodir al-Jilani itu terlalu berlebih-lebihan, sehingga tidak masuk akal. Misalkan umpamanya kantong berisi dinar diperas lalu keluar menjadi darah, tulang-tulang ayam yang berserakan, diperintah berdiri lalu bisa berdiri menjadi ayam jantan.

Kalau saudara melanjutkan cerita-cerita yang tidak masuk akal, sebaiknya jangan hanya berhenti sampai ceritanya Syeikh Abdul Qodir al-Jilani saja, tetapi teruskanlah. Misanya cerita tentang sahabat Umar bn Khottob berkirim surat kepada sungai Nil, Sahabat umar bin Khottob memberi komando dari Madinah kepada prajurut-prajurit yang sedang bertempur di tempat yang jauh dari Madinah. Cerita tentang Isra’ Mi’raj, cerita tentang tongkat menjadi ular, cerita gunung yang pecah, kemudian keluar dari unta yang besar dan sedang bunting tua, cerita tentang nabi Allah Isa menghidupkan orang yang sudah mati. Dan masih banyak lagi yang semuanya itu sama sekali tidak masuk akal.

Kalau keluar dari Nabi Allah itu sudah memang mukjizat, padahal Abdul Qodir al-Jilani itu bukan Nabi, apa bisa menimbulkan hal-hal yang tidak masuk akal?

Baik Nabi Allah maupun Syeikh Abdul Qodir al-Jilani atau sahabat Umar bin Khottob, kesemuanya itu masing-masing tidak bisa menimbulkan hal-hal yang tidak masuk akal. Tetapi kalau Allah Ta’ala membisakan itu, apakah saudara tidak dapat menghalang-halangi?

Apakah selain Nabi Allah juga mempunyai mukjizat?

Hal-hal yang menyimpang dari adat itu kalau keluar dari Nabi Allah maka namanya mukjizat, dan kalau timbul dari wali Allah namanya karomah.

Adakah dalil yang menunjukkan bahwa selain nabi Allah dapat dibisakan menimbulkan hal-hal yang menyimpang dari adat atau tidak masuk akal?

Silahkan saudara membaca cerita dalam Al-Quran tentang sahabat Nabi Allah Sulaiman yang dapat dibisakan memindah Arsy Balqis (QS An-Naml: 40)

قَالَ اللهُ تَعَالَى : قَالَ الَّذِى عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الكِتَابِ أَنَا آتِيِكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ. فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِى أَأَشْكُرُ اَمْ أَكْفُرُ. وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِيٌّ كَرِيْمٌ.
Tetapi di dalam manaqib Abdul Qodir al-Jilani ada juga kata-kata memanggil kepada para roh yang suci atau kepada wali-wali yang sudah mati untuk dimintai pertolongan, apakah itu tidak menjadikan musyrik?

Memanggil-manggil untuk dimintai pertolongan baik kepada wali yang sudah mati atau kepada bapak ibu saudara yang masih hidup dengan penuh i’tikad bahwa pribadi wali atau pribadi bapak ibu saudara itu mempunyai kekuasaan untuk dapat memberikan pertolongan yang terlepas dari kekuasaan Allah Ta’ala itu hukumnya syirik.
Akan tetapi kalau dengan i’tikad bahwa segala sesuatu adalah dari Allah Ta’ala, maka itu tidak ada halangannya, apalagi sudah jelas bahwa kita meminta pertolongan (ghouts) kepada para wali itu maksudnya adalah minta dimohonkan kepada Allah Ta’ala.


Manakah yang lebih baik, berdoa kepada Allah Ta’ala dengan langsung atau dengan perantaraan (tawassul)?

Langsung boleh, dengan perantaraan pun boleh. Sebab Allah Ta’ala itu Maha Mengetahui dan Maha Mendengar. Saudara jangan mengira bahwa tawassul kepada Allah Ta’ala melalui Nabi-Nabi atau wali itu, sama dengan saudara memohon kenaikan pangkat kepada atasan dengan perantaraan Kepala Kantor saudara. Pengertian tawassul yang demikian itu tidak benar. Sebab berarti mengalihkan pandangan terhadap yang ditujukan (pihak atasan), beralih kepada pihak perantara, sehingga disamping mempunyai kepercayaan terhadap kekuasaan pihak atasan, saudara juga percaya kepada kekuasaan pihak perantara. Tawassul kepada Allah Ta’ala tidak seperti itu.
Kalau saudara ingin contoh tawassul kepada Allah Ta’ala melalui Nabi-Nabi atau Wali-Wali itu, seperti orang yang sedang membaca al Quran dengan memakai kacamata. Orang itu tetap memandang al Quran dan tidak dapat dikatakan melihat kaca.

Bukankah Allah ta’ala berfirman dalam al Quran al Karim

وَقَالَ رَبُّكُمْ أُدْعُونِى أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Panggillah aku maka akan Aku sambut kepadamu. (Al Mukmin: 60)

فَادْعُو اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيِنَ
Maka sambutlah olehmu akan Allah ta’ala dengan memurnikan kepadanya akan agama. (Al Mukmin: 24)

وَالَّذِيْنَ لاَيَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا أَخَرَ
Dan orang-orang yang tidak menyambut bersama Allah akan tuhan yang lain. (Al Furqon: 68)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat serupa itu.

Betul akan tetapi kesemuanya itu sama sekali tidak melarang tawassul dengan pengertian sebagaimana yang telah saya terangkan tadi. Coba saja perhatikan contoh di bawah ini:
Saudara mempunyai majikan yang kaya raya mempunyai perusahaan besar, saudara sudah kenal baik dengan beliau, bahkan termasuk buruh yang dekat dengannya. Saya ingin diterima bekerja di perusahaannya. Untuk melamar pekerjaan itu, saudara saya ajak menghadap kepadanya bersama-sama, dan saya berkata, “Bapak pimpinan perusahaan yang mulia. Kedatangan saya bersama guru saya ini, ada maksud yang ingin saya sampaikan, yaitu saya mohon diterima menjadi pekerja di perusahaan bapak. Saya ajak guru saya menghadap bapak karena saya pandang guru saya ini adalah orang yang baik hati dan jujur serta juga kenal baik dengan bapak”. Coba perhatikan! kepada siapa saya memohon? Kemudian adakah gunanya saya mengajak saudara menghadap majikan besar itu?
Ada dua orang pengemis. Yang satu sendirian, sedang yang satu lagi dengan membawa kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Anak yang satu masih menyusu dan yang satu lagi baru bisa berjalan. Di antara dua orang yang pengemis itu, mana yang lebih mendapat perhatian saudara? Saudara tentu akan menjawab yang membawa anak yang kecil-kecil itulah yang lebih saya perhatikan. Kalau begitu adakah gunanya pengemis itu membawa kedua orang anaknya yang masih kecil? Kepada siapakah pengemis itu meminta? Kepada anak yang masih kecil-kecil jugakah pengemis itu meminta?

Semoga kiranya risalah yang kecil ini, dapat memenuhi harapan ihwanul muslimin, terutama jamaah Nahdlatul Ulama. Semoga risalah ini bermanfaat.

Penyusun:
KH. Bisri Mustofa



Sekian...terima kasih yer kepada kengkawan yg sudi singgah di entry ni.. :)

Monday, 19 January 2015

Umpatan orang...

Assalamualaikum....

alohaaa,,.,. lamanya rasa jari ni tak menari-nari atas keyboard ni....huhu

ada yang cakap yatt ni mcm over je buat blog tapi xda sapa pun yg view...
sob..sob... saya bukan buat untuk org puji..org promote...
saya buat sekadar suka2 aje...

sedeynya...itulaah manusia...mulut tak pernah tahu erti jemu mengumpat..

la tahzan...

harini yatt nk kongsi story...ada masa..jemputlah baca ea.. :)

Cerita Luqman Al- Hakim, bersama anaknya dan Keldai


.
 Luqman al-Hakim ialah seorang ahli hikmah. Beliau bukan seorang yang kaya raya dan banyak harta benda. Diriwayatkan, Luqman al-Hakim hanyalah orang biasa yang melakukan pelbagai jenis pekerjaan. Malah ada sejarawan yang menyelidik Luqman ialah seorang hamba berkulit hitam. 
Dalam mendidik anaknya untuk berhadapan dengan masyarakat dan pandangan manusia, Luqman al Hakim turut membawa anaknya dan keldai ke pasar tempat orang ramai. Oleh kerana jarak yang jauh antara pasar dan kawasan perkampungan, mereka pergi ke pasar dengan membawa seekor keldai sebagai binatang tunggangan dan bertujuan untuk membawa barang keperluan yang bakal dibeli. Bagi memulakan perjalanan dari rumah mereka, Luqman menaikkan anaknya untuk menunggang keldai memandangkan dirinya masih bertenaga lagi.
.
.

Destinasi 1.

.
Ketika mereka tiba di sebuah perkampungan dengan sianak tengah menunggang keldai tersebut dan Luqman al Hakim menarik keldai dengan berjalan kaki. Orang ramai mula memerhatikan mereka dengan perasaan ganjil dan pelik melihatkan dua beranak itu bersama dengan seekor keldai.
.
“Mengapa kanak-kanak itu yang menunggang keldai dan membiarkan bapanya berjalan kaki? Kenapa tidak ayahnya yang menunggang? Oh, sungguh biadap dan tercela anak itu, orang tua dibiarkan berjalan kaki, dia pula bersenang lenang di atas keldai! Ini menunjukkan sikap anak derhaka dan tidak pandai menghormati orang tua. Tidak pernahkah dia sedar ayahnya yang selama ini memberikan makan dan minum kepada dia?”
.
Semua orang di kampung itu menyatakan perkara sama. Terpinga-pinga Luqman mendengar jawapan daripada mereka. Lantas, Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, biarlah ayah pula yang menunggang keldai pula pada kali ini.” Kemudian, mereka meneruskan pula perjalanan menuju ke pasar.
.
.
Destinasi 2.
.
Dalam perjalanan, mereka sampai pula ke sebuah lagi perkampungan yang luasnya lebih kurang sama dengan perkampungan sebelum ini. Tanpa memerlukan apa-apa hajat atau keperluan pada masyarakat di kampung tersebut, Luqman yang menunggang keldai, dan anaknya yang menarik tali keldai menuju ke kampung tersebut sebelum boleh tiba ke kawasan pasar.
.
Ketika itu, semua orang yang melihat kelibat dua beranak ini mula berbisik-bisik. Penduduk kampung itu berasa ganjil dengan tingkah laku Luqman dan anaknya. Mereka mula mencela dan berkata:
“Mengapakah bapa yang menunggang, sedangkan si anak dibiarkan berjalan kaki menarik keldai? Anak itu masih kecil lagi, tentu kepenatan sepanjang perjalanan. Sibapa lebih besar daripada kanak-kanak itu dan sepatutnya sianak yang menunggang keldai tersebut. Bapa yang tidak berhati perut!
.
Sekali lagi, Luqman mendengar telahan peduduk kampung yang melihat keadaan mereka berdua dan mereka tetap meneruskan perjalanan.

Destinasi 3
.
Setelah melepasi kampung kedua dan berfikir beberapa ketika, Luqman berkata kepada anaknya,“Wahai anakku, kali ini kita menunggang keldai ini bersama-sama sehingga tiba di pasar.”
.
Mereka menukar kedudukan pula dengan kedua-dua anak beranak itu bersama menunggang keldai mereka. Namun, setibanya di sebuah kampung berhampiran dengan pasar berkenaan, tiba-tiba orang ramai mula bersuara, “Lihat!, Seekor keldai membawa dua orang!, Alangkah siksanya keldai itu membawa beban berganda!”
.
Mereka berkata kepada Luqman dan anaknya. “Tidakkah kamu berdua kasihan kepada keldai itu. Sudahlah berjalan pun tidak larat, inikan pula ingin membawa kamu berdua!”
Dipersalahan juga, apa lagi yang perlu dibuat, Luqman berfikir lagi. Tidaklama kemudian Luqman menyatakan pada anaknya, “Baiklah. Kali ini kita biarkan sahaja keldai ini tanpa penunggang.”
.
.

Destinasi 4.

.
Pada kali ini Luqman al Hakim dan anaknya tidak menaiki keldai tersebut dan mereka berdua hanya membiarkan keldai itu tanpa penunggang dan sebarang beban. Namun apabila mereka melintasi kampung keempat mereka diperkatakan lagi oleh masyarakat di situ pula.
.
Mereka berkata: “Alangkah anehnya, keldai dibiarkan tidak ditunggangi, tuannya pula berjalan kaki saja, ada kemudahan tidak digunakan, tidak pandai menggunakan nikmat yang sedia ada!”
.
Serba salah lagi dibuatnya, Luqman berfikir lagi. “Apa lagi yang perlu dilakukan agar perjalanan mereka lancar tanpa pandangan serong orang ramai?”
Setelah lama berfikir, Luqman mula menyatakan pandangannya, “Baiklah. Kali ini biar kita sahaja yang mengangkat keldai ini.”
.
.

Destinasi 5.

.
Pada kali ini dua beranak tersebut tidak menunggang, tidak juga membiarkan keldai tersebut berjalan sendirian, tetapi mereka memikul keldai tersebut.
.
Setibanya ke destinasi terakhir di pasar, kali ini keriuhan pasar bertambah apabila melihat perbuatan Luqman dan anaknya bersama seekor keldai kepunyaan mereka. Hiruk pikuk mereka melihat dari jauh kelibat dua beranak ini yang bermandi peluh mengangkat seekor keldai!

“Ah, gila, tidak masuk akal. Sepatutnya orang yang menunggang keldai. Bukan keldai dipikul mereka!”
.
Akhirnya, tanpa mahu mendengar sebarang desas desus dan orang mengata tentang tingkah laku mereka, setibanya di pasar berkenaan, keldai itu dijual. Sebelum pulang, Luqman al-Hakim berkata sesuatu kepada anaknya. “Wahai anakku, sekiranya kamu sentiasa melihat dan mengharap kepada pandangan manusia, tiada apa yang bakal berubah pada keadaannya. Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Sikap manusia tidak akan berasa senang dan gembira dengan orang lain.Orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah SWT sahaja dan sesiapa memahami kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap sesuatu.”Yakinlah akan dirimu sendiri dan setelah dilaksanakan sebaiknya, maka bertawakallah kepada Allah SWT.”
.
Oleh itu, kita tidak hairan dengan kedudukan masyarakat hari ini yang sentiasa ingin bersuara, mungkin mereka perlu maklumat, mahu memperbaiki, mahu membantu, mahu menegur dengan harapan berlaku sebarang perubahan. Selain itu, manusia juga akan sentiasa mengata dan mengata, mengkritik dan terus mengkritik walau apa sahaja yang kau lakukan, sama ada berbentuk kebaikan atau sebaliknya.
.
Oleh itu, kita kena positif dan berlapang dada kepada sesiapa sahaja kerana itu haknya untuk menegur, tapi biarlah bersopan, berbudi bahasa, ikhlas dan bukan berdasarkan ada kepentingan peribadi.
.
Islam sangat melarang umatnya berburuk sangka sesama Islam, kerana berburuk sangka akan mengundang malapetaka. Biarlah syakwasangka itu berdasarkan bukti yang kukuh dan bukan sekadar memfitnah. Sesiapa yang mempunyai sifat buruk sangka kepada sesama Islam, maka ia wajib bertaubat dan beristiqfar kepada Allah SWT Dosa orang yang berburuk sangka adalah besar dan perbuatan jahat, setiap perbuatan jahat Allah akan mencampakkannya ke dalam neraka Allah Ta’ala.

Sekian.........